Terapi Farmakologi Profilaksis Tuberkulosis
DOI:
https://doi.org/10.47506/nsjzvm56Keywords:
mycobacterium tuberculosis, isoniazid, prophylaxis, rifampisin, tuberculosisAbstract
Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, khususnya di negara berkembang, termasuk Indonesia. Upaya pencegahan melalui terapi farmakologi profilaksis pada individu berisiko, seperti kontak serumah pasien TB dan penderita infeksi TB laten, berperan penting dalam menekan angka kejadian TB aktif.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau terapi farmakologi yang digunakan sebagai profilaksis tuberkulosis berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia.
Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan penelusuran artikel dari jurnal nasional dan internasional melalui database Google Scholar dan PubMed. Penelusuran dilakukan menggunakan kata kunci terkait tuberkulosis, profilaksis, isoniazid, dan rifapentin. Artikel dibatasi pada publikasi sepuluh tahun terakhir dan diseleksi berdasarkan kesesuaian judul, abstrak, serta isi artikel dengan tujuan penelitian. Artikel terpilih dianalisis secara sistematis melalui tahap pengumpulan data, evaluasi isi, dan sintesis hasil penelitian.
Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa isoniazid dan rifapentin merupakan obat yang efektif sebagai terapi profilaksis tuberkulosis. Regimen kombinasi isoniazid dan rifapentin selama tiga bulan menunjukkan efektivitas yang sebanding dengan terapi isoniazid tunggal selama sembilan bulan, dengan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dan risiko efek samping, khususnya hepatotoksisitas, yang lebih rendah.
Kesimpulan: Terapi profilaksis tuberkulosis menggunakan kombinasi isoniazid dan rifapentin efektif dalam mencegah perkembangan TB aktif serta lebih direkomendasikan dibandingkan terapi tunggal isoniazid.


