Hubungan Self Management dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Dusun Sigerongan Wilayah Kerja Puskesmas Sigerongan
DOI:
https://doi.org/10.47506/2pdp0y60Keywords:
Self-management, tekanan darah, hipertensiAbstract
Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Pengendalian hipertensi memerlukan self-management yang baik agar tekanan darah tetap terkontrol dan komplikasi dapat dicegah. Self-management meliputi kepatuhan minum obat, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pemantauan tekanan darah, serta interaksi dengan tenaga kesehatan (Handayani et al., 2025). Tujuan: mengetahui hubungan self-management dengan tekanan darah pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 65 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner self-management dan pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer serta stetoskop. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki self-management kurang sebanyak 32 responden (49,2%), dan mayoritas mengalami hipertensi stadium II sebanyak 44 responden (67,7%). Hasil uji korelasi Pearson diperoleh nilai p-value <0,001 dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,667. Kesimpulan: terdapat hubungan yang signifikan dan kuat antara self-management dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Dusun Sigerongan wilayah kerja Puskesmas Sigerongan. Semakin baik self-management yang dilakukan pasien, maka tekanan darah cenderung lebih terkontrol.


